Wednesday, January 15, 2003

AGUSTINUS WAHYONO (AW) alias Agustinus Wahjono alias Gus ts Why alias Gus Jon alias Tinus alias Ion Auguztiens alias Onoy alias Oji (Onoy Juga itu!), sebuah nama yang betul-betul sangat tidak populer di kalangan khalayak pecandu cerpen dan pecinta sastra.

Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar (SD Maria Goretti, Sungailiat, Bangka), ia paling tidak tertarik dengan kegiatan mengarang dalam pelajaran bahasa Indonesia. Mulai tertarik menulis cerpen ketika AW usai membaca beberapa ‘antologi’ LUPUS-nya Hilman (AW pernah melihat beberapa keping bukunya LUPUS sewaktu masih kelas 2 SMP (SMP Maria Goretti, Sungailiat, Bangka, tapi di kelas 3 SMP AW pernah dikeluarkan dari kelas gara-gara malas membuat PR Bahasa Indonesia), yang sering dibawa oleh kawan sekelasnya, Ong Kian Tok (cowok berkacamata nan suka bercanda) yang dibeli-bacanya semasa duduk di akhir kelas 3 SMA (SMU Bopkri II Yogyakarta), padahal selama bersekolah AW selalu berdoa "semoga pelajaran Bahasa Indonesia segera selesai". Saat itu AW berpikir, “Bikin cerita itu gampang dan asyik ya.” Maka, AW membuat cerpen segaya LUPUS. Alhasil, dua cerpennya muncul di majalah sekolahnya, majalah IDOLA. Beberapa kali AW berusaha menulis lagi, tetapi tak jua usai. Akhirnya berhenti, karena merasa tak mampu lagi.

Beberapa tahun kemudian AW mulai menulis cerpen lagi setelah sekian tahun bergelut di bidang ilustrasi, kartun/karikatur, kewartawanan dan menulis esai di pers mahasiswa. Karya pertamanya yang kebetulan sudi dimuat adalah cerpen “Pak Dharto dan Maling” (2000). Media massa tersebut adalah Harian Pagi Bangka Pos, daerah asal AW dibesarkan.

Pemuatan cerpen pertamanya di Harian Pagi Bangka Pos pun sebetulnya (diakui oleh Agustinus Wahyono dengan penuh kejujurannya!) berawal dari ‘semacam KKN’ (Nepotisme, perkoncoan), yakni keluarga AW bersahabat baik dengan seorang pentolan Komunitas Pekerja Sastra Pulau Bangka (KPSPB), Willy Siswanto (WS). Waktu itu adik sepupu AW memberitahu bahwa AW mengirim beberapa cerpen ke harian tersebut. Kebetulan anggota eksekutif KPSPB bekerja di harian tersebut. Setelah diusut dan diusulkan oleh WS, akhirnya cerpen AW bisa masuk. Sejak itu pemuatan pertama tersebut AW menjadi bersemangat dan produktif. Akibatnya, dari berpuluh-puluh cerpen, mayoritas sangat tidak berkualitas dan tidak layak muat.

Cerpen lainnya kebetulan juga sudi dimuat di situs Cybersastra.Net, situs Bumimanusia.or.id, Harian SRIWIJAYA POS (Palembang), Harian LAMPUNG POST, Harian RIAU POS, Harian SIJORI POS, harian BATAM POS, Harian SIJORI MANDIRI, harian BATAM MANDIRI, Harian SINAR HARAPAN (Jakarta), harian PETA NEWS, tabloid INTERMEZO (Hongkong), majalah Kumpulan Cerpen CINTA (Jakarta), dan media lainnya. Kebetulan pula ada yang tergabung dalam antologi bersama "Bupati Pedro, Lelaki Kota Rembulan" (DKS-Aksara Indonesia, 2001), kumpulan cerpen terpilih Balairung “Seekor Anjing dengan Luka di Tengkuknya” (2002), antologi cerpen pendek "Graffiti Imaji" (Yayasan Multimedia Sastra, Jakarta, 2002), "Batu Merayu Rembulan" (Yayasan Damar Warga, 2003), dan antologi puisi-cerpen-esai "Sastra Pembebasan" (Yayasan Damar Warga, 2004).

Mantan “Pemenang 5 Besar” Lomba Menulis Cerpen Sleman 2001, "Pemenang 5 Besar/Harapan I" Sayembara Menulis Cerpen Hadiah Tepak Dewan Kesenian Bengkalis Riau 2003 dan "Pemenang 5 Besar/Harapan II" Lomba Menulis Cerpen SAGANG Riau 2003 ini beralamat di Jl. Batintikal 174, Sungailiat 33214, Bangka [Bangka Belitung]. Alamat emailnya: namanyawahyono@yahoo.com. Nomor telepon selulernya: 0813 287 04184. Rekening: BCA KCP Sungai Liat, atasnama Agustinus Wahjono, no.: 1180308608.

CERPEN-CERPEN YANG PERNAH DIMUAT DI MEDIA MASSA

Sejujurnya AW mengakui peran media cetak komersial (koran) sangatlah berpengaruh dalam melegitimate, mempublikasikan dan mendistribusikan cerpennya. Sejak kemunculan pertama di media massa, rasa percaya diri seorang AW bangkit, sebab selama menggeluti jagat tulis-menulis AW tidak serius menggandrungi cerpen dan otomatis tidak bersinggungan langsung dengan media massa – sekalipun itu news letter dan situs pribadi.

Untuk mempermudah dalam pengamatan terhadap pemuatan mula-mula, berikut ini telah tersusun cerpen-cerpen yang dimuat di media massa dan sesuai urutan pertama.


A. Harian Pagi BANGKA POS

Tahun 2000
1. Pak Dharto dan Maling
2. Merah Muda
3. Terpasung
4. Yousephine dan Rosalia
5. Pulang

Tahun 2001
6. Sayap Kupu-Kupu
7. Orang Kaya Baru
8. Kota Terhilang

Tahun 2002
9. Tali Yang Rapuh
10. Membakar Bulan
11. Ketika Kasih Harus Memilih
12. Penerbangan Dini
13. Kenapa Mereka Suka Menggodaku

Tahun 2003
14. Sambal Belacan Menunggu di Rumah
15. Pokoknya... Tragis!
16. Kosakay di Persimpangan (15 Juni)
17. Negeri Pantat Abu (29 Juni)
18. Selalu Ada Yang Bisa Memetik Buah (20 Juli)
19. Panasnya Pagi (3 Agustus)
20. Oleh-oleh dari Kampung (17 Agustus)
21. Aku Ingin Memanah Matahari (14 September)

Tahun 2004
22. Maling itu Boleh ? (28 Maret)
23. ..... (4 April)

B. Harian SRIWIJAYA POS

Tahun 2002
1. Anak Ayam
2. Rayuan Pedang


C. Harian RIAU POS

Tahun 2003
1. Gadis yang Mengendarai Ombak (14 Desember)


D. Harian SIJORI POS dan BATAM POS

Tahun 2002
1. Seorang Pria Mencari Tulang Rusuk

Tahun 2003 [BATAM POS]
1. Gadis yang Duduk di Kursi Itu (16 November)
2. Segores Malam Bersamamu (14 Desember)

Tahun 2004
3. Surat Cintamu (18 April)


E. Harian POS METRO [BATAM]

Tahun 2004
1. Kala Gerimis Mengiris Malam (28 Januari)


F. Harian SIJORI MANDIRI

Tahun 2003
1. Terpasung (23 Februari)


G. Harian LAMPUNG POST

Tahun 2004
1. (25 April)


H. Harian SINAR HARAPAN

Tahun 2002
1. Merpati Salju dan Pakaian Baru
2. Rayuan Pedang

Tahun 2003
3. Pokoknya... Tragis!
4. Genderang Perang Ditabuh
5. Tempat Damai di atas Pelangi (7 Juni)
6. Panggilan (23 Agustus)

Tahun 2004
7. Jadilah Bajingan yang Sungguh-sungguh (10 Januari)


I. Harian PETANEWS

Tahun 2004
1. Di Bawah Bayang-Bayang Bulan (23 Mei)


J. Majalah Kumpulan Cerita CINTA

Tahun 2004
1. Cinta itu Milik Sahabatku (Edisi 13/2004)


K. Majalah FAPET/ Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Bandung

Tahun 2003
1. Tempat Damai Di atas Pelangi (18 September atau http://www.fapet-online.com/detail.php?id=278 )


L. INTERMEZO (Hongkong)

Tahun 2003
1. Tempat Damai Di Atas Pelangi (17 Agustus)

M. situs http://cenelmasjid.tripod.com/cerpen/cerpen.htm (?) (tanpa ijin!)

Tahun ?
1. Pokoknya... Tragis (urutan ke-14)
2. Seorang Pria Mencari Tulang Rusuk (urutan ke-17)
3. Teka-teki Empat Belas Huruf (urutan ke-23)

CERPEN YANG MASUK ANTOLOGI BERSAMA

Ada penulis yang mengatakan, “Koran mempublikasikan secara temporer, dan buku menjadikannya abadi.” Mungkin ada benarnya pendapat tersebut, sebab cuma segelintir orang saja yang sungguh-sungguh menekuni dunia penglipingan koran. Jelas berbeda dengan nilai sebuah buku, yang bagi sebagian orang justru dapat menjadi koleksi yang bertahan lebih lama.

Akan tetapi, dalam pembukuan karya, AW masih harus numpang pada antologi bersama, karena biaya penerbitan buku membutuhkan dana cukup besar, dan belum ada penerbit yang tertarik untuk menerbitkan cerpen-cerpen AW yang memang sangat jauh dari standar atau kriteria kelayakan sebuah cerpen.

Namun, apa pun itu, AW patut bersyukur bahwa masih ada cerpennya yang sudi dipilih oleh orang lain untuk diikutkan dalam sebuah antologi bersama. Dan, berikut ini pemuatan dan pembukuan tersebut dapat disimak:

1. Cerpen “Kota Terhilang” dalam antologi “Bupati Pedro, Laki-laki Kota Rembulan” yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Sleman bekerjasama dengan Penerbit Aksara Indonesia, tahun 2001

2. Cerpen pendek “Berita Pagi” dalam antologi “Graffiti Imaji” yang diterbitkan oleh Yayasan Multimedia Sastra dan Penerbit Angkasa, 2002.

3. Cerpen “Kado Istimewa untuk Dies” dalam kumpulan cerpen terpilih Balairung UGM “Seekor Anjing dengan Luka di Tengkuknya”, 2002.

4. Cerpen "Kolam" dalam kumpulan cerpen pendek "Batu Merayu Rembulan" yang diterbitkan oleh Yayasan Damar Warga, 2003.

5. Cerpen "Rayuan Pedang" dalam antologi puisi-cerpen-esai "Sastra Pembebasan" yang diterbitkan oleh Yayasan Damar Warga, 2004.

KOMENTAR-KOMENTAR

Sangat subyektif apabila biodata cyborg ini tidak menyertakan pula beberapa komentar orang-orang yang selama ini memang berkompeten dalam bidang sastra dan tulis-menulis. Oleh karenanya, para cyborg dapat menyimak tulisan berisi komentar-komentar tersebut guna menjaga obyektivitas yang harmonis di sini.

1. Willy Siswanto, Ketua Komunitas Pekerja Sastra Pulau Bangka.

“Cerita pendek yang lain karya SL Thomas Alexander, Rustian Al Ansyori, Soedarsin, Eka Mulya Putra dan Agustinus Wahjono memiliki obyek pemikiran yang sama. Karya mereka yang realis sangat kuat mengupas persoalan sosial. Meskipun dari sudut pandang dan dengan pendapat yang berbeda dalam tulisannya, mereka membuktikan konsistensi yang senada dalam membuka mata masyarakat tentang banyak masalah.” (“Sastra Bangka Era Reformasi: Pengamatan Karya dan Perkembangan Sastra di Bangka”, Rubrik Budaya, Harian Pagi Bangka Pos, 11 Maret 2001)

2. Arie Saptadji Wahyu Widodo, penyair, penulis artikel Kristen, penerjemah buku-buku Kristen, penulis buku “Gagal Menjadi Garam” (Yayasan Andi Yogya, 2002), pekerja penuh waktu di Jemaat GBI Kenisah Yogyakarta)

“Dari cerpen-cerpenmu selama ini, aku bisa membaca ke mana kepedulianmu terarah. Bagus. Namun, tentu perlu penggarapan yang jitu agar pesanmu dapat tersampaikan dengan baik.

Berkaitan dengan komentar-komentar, cerpen-cerpenmu jadi lebih mirip komentar sosial. Mirip kolomnya Pak Kayam di KR. Bedanya, Pak Kayam mendekatinya dengan humor; kamu cenderung elegi melankolis (waduh, istilah apa ini? Pokoknya, bernada sedih merataplah). Pak Kayam juga konsisten dengan tokoh-tokohnya. O, Pak Ageng itu gitu; Mister Rigen itu gini; dan si Tolo-tolo itu gicu! Komentar mereka pas dengan karakter mereka.

Nah, sampeyan mau bikin apa? Kalau cerpen, yang jangan terlalu preachy (berkhotbah); show, don’t tell (perlihatkan, jangan cuma diomongin. Misalnya, daripada ngomongin soal judi, perlihatkan bagaimana suasana sebuah perjudian dan gambarkan bagaimana sosok si penjudinya).

Last but not least, sebuah nasihat umum: kalau mau buat sesuatu, lebih baik kita kuasai teori dasarnya dulu, baru kemudian secara sadar melakukan penyimpangan-penyimpangan. Jangan asal-asalan tabrak sana-sini buat sesuatu yang aneh-aneh, lalu memproklamirkan, ini karya baru, advant grade! Kan nggak lucu kalau seorang pemotret dadakan secara nggak sengaja "menciptakan" sebuah foto abstrak gara-gara salah prosedur, lalu mengklaim karyanya sebagai masterpiece.

OK, itu dulu komentarku. Jangan patah semangat. Kulihat kau pengamat yang baik. Nah, coba gambarkan hasil pengamatanmu itu secermat mungkin, jangan terburu-buru mencampuradukkannya dengan komentarmu. Jangan segan belajar dari buku-buku teori menulis (fiksi) dan membaca karya-karya yang bagus. Maju terus, Noy!”

(Email bersubject: Re: ehm. Di onoybangka@yahoo.com, dari denmasmarto?@yahoo.com, Jumat, 14 Sep 2001)

3. Medy Loekito, sastrawan, tinggal di Jakarta

Ketelitiannya dalam menuliskan detil, kepandaiannya dalam menyampaikan pesan, dan kesabarannya dalam bercerita sangat mendukung penciptaan cerpen yang baik. ("Sebuah Catatan Kaki untuk AW", Galeri Karya Esai www.cybersastra.net, 07/03/2004)


4. Titon Rahmawan, Arsitek dan Esais, tinggal di Jakarta

Dalam beberapa dialog, Onoy sering menyatakan dirinya kecil, tidak berarti, tidak punya kelebihan apa-apa sehingga memaksanya untuk terus-menerus mengkaji perjalanan kepengarangannya, sebuah pandangan yang mendorong dirinya untuk terus-menerus belajar, karena dorongan tidak pernah puas ini yang menimbulkan perasaan “sadar diri” yang barangkali tak wajar dalam kapasitasnya yang telah mampu membuktikan diri. Sebuah eufemisme yang sesungguhnya terlalu berlebihan, tetapi menjadi suatu keadaan yang justru membuatnya terus-menerus dilanda keresahan, kecemasan, kegelisahan oleh beban kreativitas sebagai konsekuensi pilihan-pilihan yang harus ia pertanggungjawabkan dalam proses pencarian jatidirinya. Kegelisahan yang secara kontradiktif mampu memicu kemampuan kreativitasnya di satu sisi, tapi juga membelenggu kebebasannya di sisi yang lain. Sebuah kondisi yang menempatkan hasrat untuk melepaskan diri dari kecemasan itu semakin membuatnya menjauh dari kebebasan yang ia idamkan.

Dari penelusuran saya atas perjalanan kepengarangan seorang Onoy, sesungguhnya bermuara pada konflik dalam dirinya yang tak hentinya mempertentangkan antara kebebasan dan keterbatasan yang justru memicu kemampuan kreatif yang luarbiasa dahsyat, sebuah kegelisahan yang menjadi sumber bagi lahirnya karya-karya yang mungkin saja akan menjadi fenomenal suatu ketika nanti bila Onoy tidak sekadar menuruti dorongan kreatif semata, tapi mau secara mendalam mendedah ke inti pencariannya dan lebih banyak menulis dengan melibatkan isi hatinya yang terdalam.

("Dunia Paradoks Seorang Penulis Eksistensialis" dalam Galeri Karya Esai www.cybersastra.net, 09/05/2004)